My days in Malaysia

20 08 2010

1st day
I arrived in Malaysia on Thursday (18 August 2010) afternoon. Thanks God I am not alone, I am with Tia. We have a nice flight although the plane has been delayed for 30 minutes. The Human Resource Department of C!MB Group has arranged a driver for us. Having all the luggage in hands, Tia sent the driver text message, telling that we already in Malaysia, one of us brings red luggage. He replied it, and asked us waiting in 6th gate. But something happened, He didn’t know that we are both women. Shien, one of HR department only give him the print out that consists of our flight number and my name. He thought that Wangsa/Lidya are two person, man and woman, in fact that’s my full name. At that time, we given up can’t find the driver. But somehow, I just called his name, “Oh, Pak Sudar where are you?” And at the same time, I turned back and I saw a man in C!MB’s uniform staring at me and answered, “Yes, I am Sudar.” He tried to explain, actually he already saw us with my big red luggage, but he thought, it should be not two ladies. I tell him that is my full name, Lidya Wangsa. Haha.. It’s okay sir! Pak Sudar is very nice guy. He told us about Malaysia, and from His story we found that He is Javanese, but born in Malaysia.
1 hour later, we arrived in Peninsula Hotel. The hotel is in front of C!MB Office in Jalan Semantan. We will stay at this hotel for 3 months ahead. Hmm.. Wish me luck! (LW)





Lebaran: Euphoria Pulang Kampung

21 09 2009

Indahnya Ramadhan selalu dibarengi dengan tradisi pulang kampung alias mudik. Saya salah satu dari jutaan orang yang mudik. Tahun ini saya benar-benar merasakan euphoria mudik. Naik Bus. Ga percaya? Beneran. Saya ga bohong. Butuh 32 jam untuk membawa saya ke kampung. Tapi anehnya, euphoria lebaran memberikan energi yang luar biasa! 32 jam memang waktu yang sangat panjang, tapi NIKMAT! Rasa letih dan bokong yang panas lenyap entah kemana.
Sampai di rumah, mama sudah siap dengan seember air panas, katanya khusus disiapkan untuk merendam kakiku yang bengkak. Aha, aneh tapi nyata, meski duduk selama itu, kaki saya masih normal, tidak bengkak, tidak pegal linu. Mama bingung dan takjub. “Kamu kok bisa masih seger bugar gitu, padahal wes tak bayangkan kamu bakalan lemes dan lencu (kusut-red),” kata mama. Lagi-lagi inilah euphoria pulang kampung, saking bahagianya, perjalanan jauh terasa dekat.
Hal menarik yang saya pelajari kali ini adalah tentang “perasaan antusias dan gembira”. Asalkan itu ada dalam genggaman, niscaya hidup bakal lebih enteng dan mudah untuk dijalani.
So, be happy and keep in smile :)
Happy Holiday everyone.





Berapa harga mu per jam?

26 07 2009

Jika Anda diperhadapkan dengan pertanyaan di atas, apakah Anda sudah punya jawabannya?

Mario Teguh The Golden Ways malam ini membahas tentang “berhasil semuda mungkin”. Untuk meraih sukses sejak muda, ada satu kunci yang Mario Teguh (MT) sampaikan, yaitu tentang manajemen waktu. Manajemen waktu dimulai dengan bagaimana kita menghargai waktu. Menghargai di sini tidak berkaitan dengan kata hormat, tapi bagaimana kita mematok “time value of yourself”. Atau dengan kata yang lebih sederhana, “Berapa sih harga mu per jam?”

Bagi mereka yang mematok harga sangat murah, katakanlah seribu rupiah per jam, jangan heran jika mereka membuang-buang waktu yang mereka punya. Lain halnya dengan orang yang menghargai waktu “dirinya” dengan tinggi, maka dia tahu dan sadar tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada karena dia dibayar mahal untuk setiap jamnya. Semoga Anda pahamsampai di sini.

Memang untuk dapat mematok harga yang tinggi dibutuhkan proses, tapi panjang pendeknya proses itu lagi-lagi tergantung diri kita. Yang jelas, penilaian orang lain itu sebenarnya muncul karena tindak tanduk kita. Jika Anda ingin berhasil maka bersungguh-sungguhlah menjadi bagian seutuhnya dari keuntungan dalam berbagai kondisi. MT mencontohkan jika ruangan kantor kotor, jadilah orang yang peduli untuk menjaga kebersihan kantor tersebut, jika suasana kantor memanas, jadilah orang yang meredam amarah. Alhasil, Anda akan menjadi orang-orang yang handal dan patut untuk dipercaya.

Langkah berikutnya adalah tidak hanya berhenti dengan memiliki cita-cita besar. Orang dengan segudang cita-cita besarnya hanya akan berhasil jika dia menemukan komunitas yang benar. Intinya adalah, seseorang tidak akan menjadi besar jika menghindar untuk bergaul dengan orang-orang besar. Jangan menghindar untuk bertemu dengan boss atau atasan Anda. Semakin Anda “kelihatan”, semakin besar kemungkinan bagi Anda untuk diangkat ke jenjang yang lebih tinggi.





Misteri Hujan

25 07 2009

Apa yang muncul di benak anda saat turun hujan? Bersyukur ataukah mengeluh. Manusia yang aneh, diberi panas ngomel, disiram hujan juga ngomel. Lalu maunya apa?

Siang ini saya terpaksa membatalkan satu acara gara-gara hujan. Padahal sudah siap berangkat. Ternyata hujan turun deras sekali.  “Emang ini musim apa sih, kok masih turun hujan??” tanyaku kesal.

Saya langsung berganti baju dengan baju rumah dan mulai membuka novel yang belum sempat saya baca sejak sebulan yang lalu. Misteri Soliter, sebuah fiksi filsafat yang ternyata menarik. Mengajak kita berpikir, tentang asal muasal manusia, siapa pencipta kita. Pertanyaan sederhana yang mungkin sudah terlupakan oleh manusia pada umumnya. Sambil menghirup secangkir teh hangat, saya membuka tiap lembarnya dengan antusias.

Saya belajar memaknai hujan dengan pendekatan “Misteri Soliter.” Hujan turun bukan tanpa sebab. Tanpa hujan, udara akan semakin panas dan pengab, air tanah akan mengering dan tanaman akan semakin gersang. Gara-gara hujan, saya akhirnya menyempatkan diri untuk membaca novel yang sejak dibeli belum pernah disentuh. Gara-gara hujan, saya bisa menikmati istirahat saya sambil ‘menengok” blog ini yang sudah lama terlantar akibat kesibukan dan kemalasan pemiliknya.

I love rainy day! I love its smell!





Menikmati waktu

27 05 2009

Genap sebulan sudah saya tinggal di Bintaro. Waktu serasa terbang dan yang pasti saya menikmatinya. Kalau sebelumnya saya bergumul dengan tanggal dan kepastian kapan diriku berangkat ke Jakarta, sekarang saya bergumul dengan test demi test yang harus dilewati dan harus berhasil. Kalau gagal ya tinggal bilang selamat tinggal saja.

Teman-teman baru dari beragam latar belakang, Bintaro yang asri dan dingin, semakin membuat diriku betah tinggal di sini.

Satu hal baru yang saya pelajari selama sebulan disini,

“bukan tanpa maksud Tuhan membiarkan kita menunggu waktu-Nya, karena DIa punya maksud dan rencana indah buat mereka yang setia berharap dan berusaha.”





Network Society

22 04 2009

Hari ini saya membuka folder sent items di dalam email dan saya menemukan sebuah esai singkat tentang Network Society. Saat itu terekam saya mengirimkan pada tanggal 13 Februari 2006, demi mengikuti “Asian World EXPO in Hongkong.” Dasarnya dulu semangat-semangatnya ikut lomba. Iseng-iseng berhadiah. Hanya, kali ini sudah iseng tapi tidak dapat hadiahnya :(. Selamat membaca dan tinggalkan jejakmu dengan berkomentar.

…………………….

Network Society

The internet is the fabric of our lives. If IT (Information Technology) is the present-day equivalent of electricity in the industrial era, in our age the Internet could be likened to both the electric grid and the electric engine because of its ability to distribute the power of information throughout the entire realm of human activity, said Manuel Casteils in his passages of The Internet Galaxy (2001).

Casteils uses the term ‘the internet’ to denote ‘the network society’ and this is a distinction Robert Hassan (Media, Politics and the Network Society, 2004) will take up below. The point is that the applications and devices that connect from the internet and connect us to it are growing in number and in sophistication all the time. These are deepening and widening the realm of network and the growing numbers of people connected to it and who make it a ‘society’.

The network society is concerned with the incorporation of masses people, with distributed systems, interconnecting networks, processes, business-to-business and people-to-people. In short, digital networks have become an integral part of modern capitalism. Over the space of what was a very short Phase One of the Digital Revolution, it now seems almost unimaginable to envisage a form of capitalism, economic globalization and much of social and culture life that does not have digital networks at its centre less centre. The revolution, in other words, has been normalized.

Finally, proving the network society is not just a dream. It is a must. Every country should prepare itself facing globalization by digitized their ‘lives’. Especially for Indonesia. Indonesia should prepare young generation for facing the new era of society, network society; by open their mind for the reformation and revolution in their life, included new technology and global information.

As a world leader, I will promote young generation for trying to learning by doing increasing their knowledge, not only for them but also for their country. Maximize their capability although in limited facilities. The important thing is not just proving the digital technology but the digital morality.

Compose by LIDYA WANGSA (070417147). I’m a student of FISIP UNAIR, Communication Department. I hope you still give me a chance joining the great event in Hongkong. Thanks. God bless.

………………………………………





Diplomasi BH

21 04 2009

“Maksudnya?”

mungkin Anda bertanya-tanya apa ini maksudnya. Sepenggal kata sambutan yang disampaikan Saifullah Yusuf, wakil Gubernur Jawa Timur, saat menghadiri Penganugerahan Kartini Award, 16 April 2009, di Surabaya Plaza Hotel.

Suasana Press Conference Kartini Award 2009

Dokumen pribadi

Diplomasi BH sebenarnya pertama-tama diungkapkan oleh Gus Dur saat menghadiri konferensi di Timur Tengah. Saat itu, para petinggi meributkan tentang redaksional suatu kesepakatan dan tidak segera mendapat kata yang tepat untuk menyimpulkan hasil konferensi tersebut. Lantas Gus Dur mengusulkan sesuatu. Dengan bahasa Arab yang fasih, beliau menjelaskan bahwa biarkan mereka yang ahli dalam menyusun redaksional yang menyelesaikan kebingunan ini, yang penting intinya sudah dipahami. Beliau mencontohkan seperti seorang perempuan mencari BH (breast holder) yang tepat sesuai payudaranya. Biarkan yang ahli yang memilih mana yang tepat. Begitu penjelasan Gus Dur dan diakhiri dengan gelak tawa para hadirin.

Menggelitik memang cerita tentang diplomasi BH ini, tapi sarat makna. Biarkan yang ahli menentukan sikap dan langkah. Perempuan dalam hal ini, jadi pembicaraan utama yang saya bahas. Biarkan perempuan dengan segala daya dan upaya yang dimilikinya mengambil sikap dan tindakan yang terbaik untuk dirinya. Karena sejatinya, hanya diri perempuan sendiri yang memahami apa yang terbaik bagi dirinya. Jangan biarkan bias gender membatasi para perempuan untuk berkarya.

Saya memang tidak mendalami pemikiran Kartini, tetapi yang saya tahu dari beberapa pembahasan mengenai tulisan beliau, Kartini adalah sosok perempuan muda yang mendambakan kebebasan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Bukan untuk menyaingi kaum lelaki, tetapi untuk mengusahakan adanya penghargaan terhadap kaumnya.

Semangat Kartini yang tak pernah padam untuk belajar, mengilhami banyak perempuan Indonesia untuk berkarya di bidangnya. Salah satu di antaranya Dra. MYRTATI DYAH ARTARIA, MA, Ph.D, ahli antropologi ragawi yang mampu merekonstruksi wajah dari tengkorak. Satu-satunya ahli yang dimiliki Indonesia. Layak bila beliau mendapat anugerah Kartini Award 2009. Karyanya di dunia penelitian menjadi aset tak ternilai bagi Indonesia.

Suara Surabaya.netSuara Surabaya.net

Bangga rasanya bila melihat wajah-wajah perempuan Indonesia yang berprestasi. Di sisi lain, hari saya perih melihat ada banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Hari ini, salah satu harian terbesar Jatim, memuat isu human trafficking sebagai headline. Muncul banyak pertanyaan di benakku. Kenapa mereka bisa begitu saja dibohongi. Kenapa sebagian besar dari mereka adalah perempuan.

LSM dan pranata hukum sudah mengambil tindakan nyata dalam menyikapi hal itu, tapi hasilnya masih belum signifikan.  Setiap tahun, angka penjualan kaum hawa ini makin meningkat.

Isu human trafficking sebaiknya jangan dipandang sebelah mata. Seharusnya dijadikan agenda utama bagi para petinggi negri yang sedang berebut mendapat kursi empuk. Katanya mereka ingin memperjuangkan kepentingan rakyat, kepentingan yang bagaimana? Akankah mereka yang terpilih nantinya peduli pada nasib anak-anak dan perempuan yang diperdagangkan layaknya barang dagangan?

Akhirnya, Selamat Hari Kartini. Semoga semangat Kartini untuk belajar dan menjadi pintar tidak pernah sirna dari perempuan Indonesia. Sehingga mereka tidak lagi mudah dibodohi. Dengan kemampuan dan keterempilan yang mereka miliki, mereka tidak akan mau membiarkan dirinya dijadikan komoditas.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.