Presiden Kita: Are you ready?

1 10 2007

Musim Kampanye Calon Presiden Indonesia 2009 telah dimulai seiring dengan langkah awal yang diambil oleh Megawati Soekarno Putri beberapa waktu lalu yaitu mengajukan diri sebagai calon presiden kembali.

Bagaimana kesiapan bangsa Indonesia untuk memasuki musim ini, tentu menarik untuk diperbincangkan. Diskusi ini penting diadakan dan dikembangkan demi munculnya generasi baru yang siap mengkritisi proses pemilihan pemimpin nomor wahid sejak dini. Diharapkan nantinya setiap warga negara mampu bertindak dengan tepat sehingga mampu memberikan dampak signifikan bagi perbaikan Indonesia ke arah yang lebih baik.

Wimar Witoelar bekerja sama dengan UNAS akan mengawalinya dengan mengadakan forum khusus guna mempersiapkan ‘orang-orang biasa’ yang punya niat dan tekat untuk mengisi musim ini dengan pemikiran kritis demi sebuah perubahan.

Rencananya acara akan diadakan di UNAS (Jumat, 5 Oktober 2007) dengan pembicara Wimar Witoelar yang akan mengusung tema “Orang biasa dan pemilihan presiden 2009”

ikuti laporan selanjutnya hari Jumat 5 oct 2007….

update 5 oct 2007 (10 pm)

 

Kriteria Presiden di Mata Orang Biasa antara Cinta dan Komunikasi
Kunci langgengnya suatu kepemimpinan adalah cinta dan komunikasi.” Begitu ujar Wimar Witoelar saat ngabuburit bersama teman-teman mahasiswa dari Universitas Nasional (UNAS) jumat sore kemarin (5/10). Dimotori oleh Didiet Adiputro yang juga bertindak selaku moderator, Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik UNAS menggelar sebuah diskusi terbuka dengan tema Presiden Kita: Kriteria Orang Biasa dan Pilpres 2009.

WW menyatakan bahwa kita boleh memilih yang terbaik dari pilihan yang ada, siapa pun orangnya, asalkan dengan ‘cinta’ kita tidak membiarkan yang terpilih berjalan sendiri. Kritik membangun bisa digunakan untuk mewujudkan cinta tersebut. Jangan menunggu 5 tahun lagi atau mengharapkan pemilu berikutnya untuk memperoleh perubahan menuju keadaan yang lebih baik. Tunjukkan kepedulian sebagai orang biasa yang mendambakan hidup tenang dan keinginan untuk maju dengan tetap menghargai hak setiap pribadi yaitu dengan bersedia mengkritik dan bersuara.

Komunikasi yang baik juga turut menentukan langgeng tidaknya popularitas seorang pemimpin (presiden -red). Seperti dicontohkan bahwa Soekarno dan Soeharto pada awalnya sukses menyampaikan pemikirannya dengan sangat komunikatif tapi pada akhirnya komunikasi tidak dibina dengan baik akhirnya terjadi penurunan popularitas yang mengakibatkan bergesernya keberpihakan rakyat. Melihat pentingnya peran komunikasi tersebut, para calon mendatang tidak bisa hanya bergantung pada media tradisional sebagai satu-satunya alat kampanye, tapi harus mulai mengoptimalkan media non-tradisional misalnya seperti media blog.

Sore itu, ruangan Student Centered Learning dipadati oleh sekitar 5o an mahasiswa yang sangat antusias untuk bertukar argumen dengan Wimar Witoelar yang memang menaruh perhatian cukup besar dalam proses pemilihan presiden mendatang. WW menjelaskan bahwa momen diskusi ini penting bagi orang biasa karena ini akan membuka ruang bagi mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi pemilihan presiden 2009. “Kalau sejak awal dipersiapkan maka pilihan itu akan semakin banyak dan orang biasa bisa turut berkontribusi,” papar mantan juru bicara kepresidenan pada zaman gus Dur.

Orang biasa diharapkan ikut serta dalam pemilihan presiden mendatang, boleh jadi salah satu calonnya. “Menang kalah tidak jadi soal, yang penting keikutsertaan orang biasa tersebut dalam pilpres mendatang berdampak dan mampu mewarnai proses pemilihan presiden 2009”, jelas WW.

“Sebenarnya kriteria presiden seperti apa yang sesuai dengan harapan orang biasa?” tanya Sofi, mahasiswi Ekonomi Manajemen. Menurut WW, sederhana saja kriterianya, yang penting pemimpin tersebut disukai orang. Lebih lanjut ditambahkan bahwa presiden terpilih tidak bergantung pada dikotomi etnisitas. Selama para calon menunjukkan kepada publik bahwa mereka patut dan layak dipilih maka apapun latar belakangnya akan diterima oleh para pemilih.

Diskusi singkat selama satu jam ini agaknya cukup dijadikan sebagai momentum pembuka pesta demokrasi terakbar 2009 mendatang. “Ini merupakan kesempatan untuk menyederhanakan politik agar dapat diterima dan dipahami oleh orang biasa karena sebenarnya negara itu tidak penting, yang paling penting adalah pemberdayaan masyarakatnya”, jelas pendiri partai Orang Biasa ini sambil menutup diskusi. (LW)


Actions

Information

3 responses

26 11 2007
sadi

hi.saya adalah orang yang sangat cinta negri ini.dan sangat prihatin dengan kondisi rakyat indonesia.saya ingin memberitahu tentang prestasi mantan presiden kita mba’ mega yaitu:
1menjual indosat dengan harga “sangat!!” murah pada singapura.
2″memindahkan perusahaan sony yang cuma satu2nya di asia tenggara ke singapura
3cuma punya ijazah sma??????????
4korupsi tertinggi di zaman pamerintahannya.
5ga bisa pidato,taunya cuma baca naskah doank.
nah pesan yang ingin saya sampaikan disini,”pintar2lah memilih pemimpin,jangan hanya jual nama ortu,dan saya harap(usahain bisa) anda juga memberitahukan hal ini pada semua teman anda.kasihan saudara2 kita yang dilanda kemiskinan,mereka menunggu negara ini maju.”cintailah bangsa ini”.

18 06 2014
toko bunga jakarta

hmmm bagaimana yah cara memilih presiden yg jujur saat ini???

21 10 2014
teralis

Terima kasih atas informasinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: