Good bye Jakarta :'(

30 11 2007

Dua hari lagi, tepatnya minggu besok (2 Des 2007), saya akan meluncur ke Surabaya, kembali ke habitat asli 🙂 Saya telah menyelesaikan program magang selama 3 bulan persis di Intermatrix Communications. Beragam pengalaman, suka dan duka saya peroleh. Thx God, hampir semuanya adalah pengalaman yang menggembirakan.

Apa yang saya peroleh hampir memenuhi harapan-harapan yang saya bawa dari Surabaya. Memang ada beberapa yang belum terpenuhi hingga saat terakhir saya di Jakarta. Tapi tak apa. Masih ada kesempatan lain.

Bagi saya pengalaman hidup di Jakarta sangat mengagumkan. Kenal banyak orang dan tempat menarik, yang semuanya bakal melekat di memori saya.

Terima kasih…

Kepada orang-orang baik yang telah dipertemukan dengan seorang Lidya Wangsa. LW sangat bersyukur boleh mengenal kalian semua. Bagi saya, tidak ada kata semoga. karena semuanya itu pasti ada waktunya, waktu bertemu, berpisah dan akhirnya bertemu lagi. Saya yakin saya akan kembali ke Jakarta dengan membawa harapan-harapan baru.

Selamat tinggal dan samapai jumpa di lain kesempatan.

*nantikan ceritaku tentang pengalaman magang di Jakarta secara lengkap.

Advertisements




“Rainbow Warrior bukan kapal biasa”

27 11 2007

Akhirnya, kapal kenamaan Greenpeace singgah di Jakarta. Sebelumnya kapal pembawa misi penyelamatan ligkungan ini mampir di Riau untuk memberikan dukungan kepada para aktivis yang sedang memperjuangkan hutan Riau. Saya dan beberapa teman sengaja datang ke Tanjung Priok demi menyaksikan secara langsung kedatangan kapal legendaris ini.

Perjalanan dimulai dari Halte Ratu Plaza. Kami berempat sepakat bertemu di Halte Ratu Plaza mengingat tempatnya yang strategis dan mudah diakses. Oke, jam 10.30 kami memulai perjalanan dengan Trans Jakarta Busway. Awalnya kami berniat akan ke Kwitang dulu, pasar buku yang jadi salah satu tempat bertemunya Rangga dan Cinta di AADC, tapi akhirnya batal karena waktunya mepet. Jadi kami pilih hanya ke Tanjung Priok. Berangkat dengan bermodalkan peta busway di tangan dan sedikit makanan, tak memupuskan semangat petualang kami.

Sampai di Halte Harmoni kami harus pindah bus, ke arah Senen dan disambut antrean panjang. Wuaaahh, kami sempat bingung. Enaknya mau menempuh arah yang mana. Tanya ke petugas Busway, jawabannya tambah buat pusing. Akhirnya seorang dari kami mengambil keputusan, kami ke arah Pasar Baru dan lanjut dengan taksi biru menuju Tanjung Priok.

Jam menunjukkan pukul 11.30 waktu Jakarta, kami sampai di pelabuhan. Saat melihat spanduk Greenpeace langsung lega hati ini, spontan saya bilang, “Nah, aman kan? Nggak menakutkan seperti orang bilang.” Tapi, langsung disanggah oleh Susy, “eh, jangan bilang aman sebelum kita keluar dari sini dan pulang ke rumah dengan selamat.”

Lanjut, sampai di dalam ternyata ada rombongan anak-anak TK yang khusus diundang untuk mengenal Rainbow Warrior. Kami pun turut mendengarkan sejenak penjelasan singkat dari Dina Purita, Greenpece Indonesia, tentang sebelum akhirnya mendapat giliran masuk ke kapal.

Dina Purita & anak-anak TK

Panas!! Cuacanya benar-benar panas. Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00. Untung saja panasnya hari itu terbayar lunas dengan kesempatan menjejakkan kaki di dalam kapal historis ini.

The Rainbow Warrior

Kapal Rainbow Warrior ini bukan termasuk kapal besar, tapi sangat fungsional. Oleh teman dari Greenpeace kami diajak melihat bagian buritan kapal, kemudian pada bagian kemudi, dan sampai di bagian depan. Bagian terunik dari kapal ini adalah 3 barang peninggalan kapal terdahulu Greenpeace, yaitu Kompas, lonceng, serta kemudi. Sayangnya kami tidak diperkenankan mengintip ruang kabin, tempat tinggal awak kapal, dengan alasan “itu privacy”.

 

Di dalam ruang nahkoda

Mungkin anda bertanya-tanya sebenarnya apa sih fungsi dari kapal ini? Rainbow Warrior membawa dukungan kepada para aktivis lingkungan hidup di seluruh dunia. Contohnya kemarin di Riau, mereka khusus mampir untuk men-support teman-teman yang sedang memperjuangkan penyelamatan hutan Riau. Selain itu Rainbow Warrior juga membawa misi ke seluruh dunia menyadarkan manusia akan pentingnya melestarikan bumi.

Puas berfoto dan melihat isi kapal, kami memutuskan untuk pulang. OMG! “Mau pulang naik apa nih?” tanya Ika. Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab. Kami memang belum tahu harus pulang naik apa. Tadinya kami berencana pulang naik taksi, tapi tidak ada satupun taksi yang muncul. Sempat ada abang ojek dan supir mobil sewaan menawarkan tumpangan. Tapi, ngeri! Saya langsung teringat ucapan banyak orang kalau pelabuhan itu daerah rawan.

Tiba-tiba Rizka nyeletuk, “Eh ada mobil TV tuh, sepertinya mobil liputan.” Kami langsung bergegas mendekati mobil itu dan ternyata tim liputan itu juga mau balik ke kantor. “Mbak, maaf, mbak bawa mobil ya? Kami boleh ikut sampai depan?” tanya Susy nekat kepada reporter salah satu TV swasta itu. “Oh, bentar ya, saya lihat dulu apakah muat,” ujar mbak berkacamata itu kalem.

Sementara itu kami berempat komat-kamit berdoa agar dibolehkan menumpang. “Silakan mbak, Cuma berempat kan?” ujar reporter itu tiba-tiba. “Horeeee!” seru kami kompak.

“Makasih mbak, makasih ya,” ucap kami berulang-ulang.

Di dalam mobil APV, si reporter bertanya, “Kok niat banget sih bela-belain datang lihat kapal Greenpeace?”

Kami terdiam dan termenung sejenak, memikirkan jawabannya. Memang kalau dipikir-pikir kami memang terlalu bayar harga (baca: terlalu niat) jauh-jauh mampir ke Tanjung Priok, “hanya” untuk sebuah kapal. Tapi nyatanya, Rainbow Warrior bukan sekadar kapal biasa. Kapal ini punya “spirit” yang luar biasa, spirit untuk menyelamatkan bumi, dan beruntungnya spirit itu sudah mulai menjalari kami. Ayo mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, kita selamatkan bumi. [LW]

*baca cerita sebelumnya “Semua Bisa Jadi Satria Pelangi”





Semua Bisa Jadi Satria Pelangi

3 11 2007

Greenpeace hadir karena

Bumi yang rentan ini perlu suara.

Bumi perlu solusi.

Bumi perlu perubahan.

Bumi perlu tindakan.”

(www.greenpeace.org/seasia/id)

Ya, bumi perlu pembelaan dan dukungan dari kita untuk beramai-ramai mengambil tindakan nyata, menyelamatkan bumi yang sedang sakit ini.

Dimotori oleh Greenpeace dengan aksinya, Forest Defender Camp (FDC), pembelaan bumi dilakukan secara perlahan tapi pasti. Acara kamp ini dibuka secara resmi pada hari Sabtu, 3 November 2007 di lapangan Monas dan akan berlangsung hingga 11 November 2007. Mereka yang merasa peduli terhadap keberadaan hutan, khususnya di Indonesia, bisa bergabung meramaikan acara ini mulai pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

Kamp kali ini menyuguhkan pameran, pertunjukkan musik sederhana, teater, tarian, talk show dan games seru mengenai keadaan hutan di Indonesia. Hadir sebagai nara sumber talk show, Wimar Witoelar dan Leony, bintang sinetron sekaligus penyanyi yang juga menjadi sahabat Greenpeace. Dipandu oleh Olga Lydia, talk show mengalir dengan hangat dan penuh makna, meski diwarnai dengan gerimis yang tak kunjung reda.

Saya tidak paham betul soal hutan, tapi saya peduli akan hutan, makanya saya ada di sini mendukung acara ini,” ujar Wimar Witoelar. WW juga menjelaskan bahwa biasanya orang yang peduli akan masalah hutan dan lingkungan hidup jarang yang bersinggungan dengan kekuasaan. Akibatnya mereka menjadi kelompok minoritas yang harus bekerja keras untuk meraih dukungan khalayak ramai. Ditambah lagi isu lingkungan hidup kurang menarik perhatian masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya, para aktivis lingkungan hidup harus pandai-pandai menggunakan media untuk menyuarakan aksinya. “Melalui media, kita bisa menciptakan mainstream di tengah masyarakat akan pentingnya hutan,” ujar WW.

Leony yang hadir dengan menggunakan T-shirt khusus dari Greenpeace mengiyakan pendapat dari WW. “Memang, orang-orang sekarang agak kurang peduli pada lingkungan, jadi tugas kita semua untuk mulai menyebarluaskan masalah lingkungan ini, khususnya tentang hutan kita,” ujar mantan penyanyi cilik ini kalem.

Perwakilan dari Greenpeace, Bustar Maitar, juga menjelaskan bahwa FDC ini merupakan upaya internasional yang dilakukan Greenpeace untuk melindungi sisa hutan di dunia dan perubahan iklim global yang diharapkan nantinya akan menjadi pressure bagi negosiasi iklim Protokol Kyoto di Bali, Desember mendatang. “Kami saat ini mengajukan petisi kepada pemerintah dan sedang menggalang dukungan dari mereka yang peduli kepada hutan di Indonesia, yaitu dengan menandatangani petisi tersebut,” jelas juru kampanye hutan Greenpeace ini.

Secara singkat isi petisi tersebut berisikan mengenai desakan kepada pemerintah untuk mengambil langkah konkret untuk menghentikan penebangan hutan dalam skala besar, menghentikan konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, menghentikan kebakaran hutan serta rehabilitasi hutan yang sudah rusak.

Sore itu, Bustar juga mendorong setiap orang yang peduli akan hutan untuk menandatangani petisi sebagai wujud dukungan terhadap upaya penyelamatan hutan. Hingga saat ini sudah terkumpul sekitar 23 ribu tanda tangan asli, dimana target yang ingin dicapai adalah 1 juta dukungan.

Kemudian di tengah talk show, WW nyeletuk tentang Rainbow Warrior, sebuah kapal terbesar Greenpeace. “Lalu apa kabar dengan Rainbow Warrior?” tanya WW ingin tahu. Dina Purita Antonio, Regional Media Campaigner, Greenpeace Asia Tenggara, menjelaskan bahwa Rainbow Warrior masih aktif melancarkan aksinya sampai hari ini, yaitu berkeliling dunia untuk membawa misi penyelamatan bumi dan akhir November nanti, rencananya Rainbow Warrior akan mampir ke Tanjung Priuk. Ketika ditanya siapakah yang termasuk satria-satria itu, Dina menjelaskan bahwa semua orang yang terpanggil untuk menyelamatkan bumi yang sedang sakit ini akan disebut Rainbow Warriors.

Akhirnya, bila kita sekarang merasa tidak bisa berbuat banyak untuk bumi kita, ikuti saja langkah sederhana dari WW berikut ini. Pertama, cari tahu (get the informations), misalnya melalui website mengenai keadaan hutan dan aktivitas Greenpeace, lalu punyailah sikap, dan terakhir nyatakan sikap itu, misalnya dengan menulis mengenai keadaan bumi saat ini sehingga semakin banyak orang yang tahu akan isu krusial tersebut dan akhirnya mau peduli. Intinya lakukan bagian yang anda bisa lakukan, sekecil apapun itu. [LW]


 






Bukan Sekedar Pesta

2 11 2007

Bagi saya, Pesta Blogger 2007 kemarin bukan sekedar pesta. Jujur, PB2007 membuka sebuah pintu masuk pada “dunia baru” bagi seorang Lidya Wangsa. Mulai dari masuk Metro TV dan O Channel, sampai diwawancarai oleh Harian Kontan, untuk sekedar meramaikan pemberitaan mengenai kopi darat akbar blogger Indonesia.

Meski ada beberapa pihak sempat pesimis dan skeptis terhadap acara ini, saya pribadi sangat bangga sudah menjadi bagian dari PB2007. Apalagi pulang dengan mengantongi hape baru yang memang saya idamkan sejak lama, tapi esensi pentingnya bukan itu. Lewat PB2007 saya bisa mengukir prestasi baru dan membuktikan bahwa perjalanan saya ke Jakarta bukan tanpa hasil, tapi sangat penuh warna dan mungkin tidak dapat diperoleh jika saya tetap ada di Surabaya. Bukan berarti saya mengecilkan daerah saya, tapi ini adalah fakta. Di Jakarta, semua akses lebih cepat, apalagi jika bergaul dengan orang yang berpengaruh.

STOP!

Mungkin anda mulai bingung dan tidak paham tentang apa yang sedang saya bahas. Oke, sekarang saya ajak anda untuk flash back, mundur setengah tahun yang lalu. Waktu dimana saya memutuskan untuk mengikuti program magang di Jakarta, tepatnya di Intermatrix, PR Consultant yang didirikan oleh Wimar Witoelar.

Keputusan untuk magang di luar kota ini sempat bikin kaget teman-teman kampus. Ada yang bilang, “ngapain Lid jauh-jauh, kalau aku yang dekt-deket aja.” Ada juga yang mendoakan, “semoga sukses ya.”

Amiiiiinnn…. Jawabku. Jadi, saya menerima banyak komentar, positif dan negatif. Tapi saya tak bergeming, tetap dengan keputusanku. Terbukti, hingga magang ini berjalan dua bulan (kurang satu bulan lagi, hiks), saya sudah mendapat banyak pengalaman menarik. Bertemu dengan orang baru dan kaya akan cerita.

Pastinya, PB2007 akan menjadi salah satu cerita paling menarik selama magang di Jakarta. Semoga tahun depan, jika diadakan lagi, saya bisa ikutan lagi, bukan dengan acara yang sama, tapi pasti lebih berwarna dan membuahkan hasil signifikan bagi perkembangan blogger dan aktivitas blogging di Indonesia.