“Rainbow Warrior bukan kapal biasa”

27 11 2007

Akhirnya, kapal kenamaan Greenpeace singgah di Jakarta. Sebelumnya kapal pembawa misi penyelamatan ligkungan ini mampir di Riau untuk memberikan dukungan kepada para aktivis yang sedang memperjuangkan hutan Riau. Saya dan beberapa teman sengaja datang ke Tanjung Priok demi menyaksikan secara langsung kedatangan kapal legendaris ini.

Perjalanan dimulai dari Halte Ratu Plaza. Kami berempat sepakat bertemu di Halte Ratu Plaza mengingat tempatnya yang strategis dan mudah diakses. Oke, jam 10.30 kami memulai perjalanan dengan Trans Jakarta Busway. Awalnya kami berniat akan ke Kwitang dulu, pasar buku yang jadi salah satu tempat bertemunya Rangga dan Cinta di AADC, tapi akhirnya batal karena waktunya mepet. Jadi kami pilih hanya ke Tanjung Priok. Berangkat dengan bermodalkan peta busway di tangan dan sedikit makanan, tak memupuskan semangat petualang kami.

Sampai di Halte Harmoni kami harus pindah bus, ke arah Senen dan disambut antrean panjang. Wuaaahh, kami sempat bingung. Enaknya mau menempuh arah yang mana. Tanya ke petugas Busway, jawabannya tambah buat pusing. Akhirnya seorang dari kami mengambil keputusan, kami ke arah Pasar Baru dan lanjut dengan taksi biru menuju Tanjung Priok.

Jam menunjukkan pukul 11.30 waktu Jakarta, kami sampai di pelabuhan. Saat melihat spanduk Greenpeace langsung lega hati ini, spontan saya bilang, “Nah, aman kan? Nggak menakutkan seperti orang bilang.” Tapi, langsung disanggah oleh Susy, “eh, jangan bilang aman sebelum kita keluar dari sini dan pulang ke rumah dengan selamat.”

Lanjut, sampai di dalam ternyata ada rombongan anak-anak TK yang khusus diundang untuk mengenal Rainbow Warrior. Kami pun turut mendengarkan sejenak penjelasan singkat dari Dina Purita, Greenpece Indonesia, tentang sebelum akhirnya mendapat giliran masuk ke kapal.

Dina Purita & anak-anak TK

Panas!! Cuacanya benar-benar panas. Saat itu waktu menunjukkan pukul 13.00. Untung saja panasnya hari itu terbayar lunas dengan kesempatan menjejakkan kaki di dalam kapal historis ini.

The Rainbow Warrior

Kapal Rainbow Warrior ini bukan termasuk kapal besar, tapi sangat fungsional. Oleh teman dari Greenpeace kami diajak melihat bagian buritan kapal, kemudian pada bagian kemudi, dan sampai di bagian depan. Bagian terunik dari kapal ini adalah 3 barang peninggalan kapal terdahulu Greenpeace, yaitu Kompas, lonceng, serta kemudi. Sayangnya kami tidak diperkenankan mengintip ruang kabin, tempat tinggal awak kapal, dengan alasan “itu privacy”.

 

Di dalam ruang nahkoda

Mungkin anda bertanya-tanya sebenarnya apa sih fungsi dari kapal ini? Rainbow Warrior membawa dukungan kepada para aktivis lingkungan hidup di seluruh dunia. Contohnya kemarin di Riau, mereka khusus mampir untuk men-support teman-teman yang sedang memperjuangkan penyelamatan hutan Riau. Selain itu Rainbow Warrior juga membawa misi ke seluruh dunia menyadarkan manusia akan pentingnya melestarikan bumi.

Puas berfoto dan melihat isi kapal, kami memutuskan untuk pulang. OMG! “Mau pulang naik apa nih?” tanya Ika. Tidak ada seorang pun yang bisa menjawab. Kami memang belum tahu harus pulang naik apa. Tadinya kami berencana pulang naik taksi, tapi tidak ada satupun taksi yang muncul. Sempat ada abang ojek dan supir mobil sewaan menawarkan tumpangan. Tapi, ngeri! Saya langsung teringat ucapan banyak orang kalau pelabuhan itu daerah rawan.

Tiba-tiba Rizka nyeletuk, “Eh ada mobil TV tuh, sepertinya mobil liputan.” Kami langsung bergegas mendekati mobil itu dan ternyata tim liputan itu juga mau balik ke kantor. “Mbak, maaf, mbak bawa mobil ya? Kami boleh ikut sampai depan?” tanya Susy nekat kepada reporter salah satu TV swasta itu. “Oh, bentar ya, saya lihat dulu apakah muat,” ujar mbak berkacamata itu kalem.

Sementara itu kami berempat komat-kamit berdoa agar dibolehkan menumpang. “Silakan mbak, Cuma berempat kan?” ujar reporter itu tiba-tiba. “Horeeee!” seru kami kompak.

“Makasih mbak, makasih ya,” ucap kami berulang-ulang.

Di dalam mobil APV, si reporter bertanya, “Kok niat banget sih bela-belain datang lihat kapal Greenpeace?”

Kami terdiam dan termenung sejenak, memikirkan jawabannya. Memang kalau dipikir-pikir kami memang terlalu bayar harga (baca: terlalu niat) jauh-jauh mampir ke Tanjung Priok, “hanya” untuk sebuah kapal. Tapi nyatanya, Rainbow Warrior bukan sekadar kapal biasa. Kapal ini punya “spirit” yang luar biasa, spirit untuk menyelamatkan bumi, dan beruntungnya spirit itu sudah mulai menjalari kami. Ayo mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, kita selamatkan bumi. [LW]

*baca cerita sebelumnya “Semua Bisa Jadi Satria Pelangi”


Actions

Information

6 responses

29 11 2007
AG. Syam

Sebenarnya saya juga ingin sekali melihat keanggunan ranbow warrior. “Kok niat banget sih bela-belain datang lihat kapal Greenpeace?” Kalau saya yg ditanya, saya pun akan menjawab yg sama. Karena biarpun hanya sebuah kapal namun dia adalah sebuah simbol yang didalamnya tercermin semangat untuk menyelamatkan bumi yang rapuh ini. Selayaknya kedatangan rainbow warior di Jakarta diikuti oleh langkah-langkah positif seluruh warga Indonesia untuk segera berupaya menyelamatkan Indonesia sebagai paru-paru dunia dari kehancuran pembakaran hutan, illegal logging, dll.
BTW, thank full to share this journey completed with amazing pictures.

29 11 2007
az&fa

salam green lover…🙂

29 11 2007
wimar

WOW!! Salut pada delegasi tidak resmi dipimpin Lidya Wangsa yang mewakili kita semua, orang biasa yang ingin merasakan berada di Rainbow Warrior. Nama ini sangat romantis sejak pendahulunya diledakkan di Selandia Baru gara2 mengganggu percobaan bom nuklis di Samudra Pasifik. Perjuangannya macam2 tapi suasana avontur dan ‘membela kebenaran’ tetap bertahan. Jaman sekarang, Rainbow Warrior lebih aman tapi yang berbahaya justru adalah kawasan Tanjung Priok. Untunglah ada Susy yang mengingatkan untuk jangan lengah. Pelabuhan dimana-dimana adalah daerah rawan. Apalagi di Jakarta yang penuh kriminal dari preman sampai Gubernur.
Lidya layak memegang gelar best blogger pendatang baru.

29 11 2007
Dhan

Makasih buat reportasenya. Dulu waktu masih kecil saya sering ngebayangin gimana rasanya ada di dalam Rainbow Warrior & ngehadangin kapal pemburu ikan paus dan kalo perlu ‘pasang badan’ ngehalangi laju kapal-kapal tersebut.

Hebat, kecil-kecil nyalinya gede. Either the Rainbow Warrior and you guys yang bela-belain pada ke Tanjung Priok. Hehe…

Sekarang (berhubung udah ngga kecil🙂 ) saya support para green warriors dengan cara yang ‘less frontal’ deh. Sekarang mah nggak bisa mikir nothing to lose.

30 11 2007
kholish

Pejaung sejati banget ya GRainbow Warrior an thw crew !
Ya, semoga aja semua misi berjalan lancar.

13 12 2007
bayu indrawan

salam kenal,

wahh…pengalaman yg sgt menarik🙂
saya jg merasa sangat beruntung bisa menginjakkan kaki di Rainbow Warrior…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: