Laskar Pelangi

26 09 2008

Niatnya nonton premier Laskar Pelangi (LP), 25 Sept di Surabaya Plaza, tapi apa daya, ga kebagian tiket. Terpaksa nonton keesokan harinya. Saya sudah cek bagian informasi penjualan tiket, katanya ticket box baru akan dibuka jam 11. Rencana mau nonton di Surabaya Plaza. Habisnya murah sih, cuma 10 rb!Buru-buru saya naik angkot bersama adik tercinta untuk menyaksikan LP. “ayo Ita, cepetan donk, tar telat!” omelku memburu waktu. Sampai di depan ticket box, ternyata tiket untuk hari itu sudah ludes. Fiuh, padahal nanti malam saya sudah harus mudik ke kampung halaman, Jember, dan  yang saya tahu, LP ga bakalan diputar di bioskop Jember. (sedihnya)

Apa pun yang terjadi saya harus nonton film LP! Langsung saya menelpon ke XXI Tunjungan Plaza, menanyakan apakah masih ada tiket yang tersisa. Syukur, masih ada yang tersisa. Sampai di Tunjungan, saya agak terkejut, saya lupa kalo ini hari Jumat! XXI 30rb, bukan 15rb. Ups, untung bawa uang lebih. Gpp, demi LP!

Sebelumnya, kira-kira 4-5 bulan yang lalu, saya sudah melahap habis Trilogi LP, dan sudah lama menantikan film ini. Entah ada kimia apa antara saya dan LP! Sampai-sampai setelah saya membaca LP saya langsung bercita-cita, suatu hari ingin mendirikan sekolah gratis bagi warga Jember yang kurang mampu. Semoga mimpi jadi kenyataan..

Di tengah perjalanan ke Tunjungan Ita bertanya, “Sebenernya film apaan sih ini Cie? film Hollywood aja ga dikejer kaya gini!” Pertanyan sederhana ini menggelitik saya. Apa sih istimewanya LP ketimbang film lain? Jujur saya memang bukan tipe orang yang rajin ke bioskop. Selama setahun mungkin bisa dihitung dengan jari, saya pernah nonton berapa kali.

Dengan tegas dan PD, padahal belum masuk ke bioskop saya menjawab pertanyaan Ita. Ita memang belum sempat membaca LP, tapi dua hari sebelumnya dia sudah membaca Edensor. Jadi saya sedikit menjelaskan isi cerita LP. LP menarik dan istimewa bagi saya karena:

1. LP punya “cerita” yang hidup,

2. Bercerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan persaudaraan,

3. Menguak fakta tentang pendidikan Indonesia,

4. … (bisa diiisi dengan versi anda)