Network Society

22 04 2009

Hari ini saya membuka folder sent items di dalam email dan saya menemukan sebuah esai singkat tentang Network Society. Saat itu terekam saya mengirimkan pada tanggal 13 Februari 2006, demi mengikuti “Asian World EXPO in Hongkong.” Dasarnya dulu semangat-semangatnya ikut lomba. Iseng-iseng berhadiah. Hanya, kali ini sudah iseng tapi tidak dapat hadiahnya :(. Selamat membaca dan tinggalkan jejakmu dengan berkomentar.

…………………….

Network Society

The internet is the fabric of our lives. If IT (Information Technology) is the present-day equivalent of electricity in the industrial era, in our age the Internet could be likened to both the electric grid and the electric engine because of its ability to distribute the power of information throughout the entire realm of human activity, said Manuel Casteils in his passages of The Internet Galaxy (2001).

Casteils uses the term ‘the internet’ to denote ‘the network society’ and this is a distinction Robert Hassan (Media, Politics and the Network Society, 2004) will take up below. The point is that the applications and devices that connect from the internet and connect us to it are growing in number and in sophistication all the time. These are deepening and widening the realm of network and the growing numbers of people connected to it and who make it a ‘society’.

The network society is concerned with the incorporation of masses people, with distributed systems, interconnecting networks, processes, business-to-business and people-to-people. In short, digital networks have become an integral part of modern capitalism. Over the space of what was a very short Phase One of the Digital Revolution, it now seems almost unimaginable to envisage a form of capitalism, economic globalization and much of social and culture life that does not have digital networks at its centre less centre. The revolution, in other words, has been normalized.

Finally, proving the network society is not just a dream. It is a must. Every country should prepare itself facing globalization by digitized their ‘lives’. Especially for Indonesia. Indonesia should prepare young generation for facing the new era of society, network society; by open their mind for the reformation and revolution in their life, included new technology and global information.

As a world leader, I will promote young generation for trying to learning by doing increasing their knowledge, not only for them but also for their country. Maximize their capability although in limited facilities. The important thing is not just proving the digital technology but the digital morality.

Compose by LIDYA WANGSA (070417147). I’m a student of FISIP UNAIR, Communication Department. I hope you still give me a chance joining the great event in Hongkong. Thanks. God bless.

………………………………………

Advertisements




Diplomasi BH

21 04 2009

“Maksudnya?”

mungkin Anda bertanya-tanya apa ini maksudnya. Sepenggal kata sambutan yang disampaikan Saifullah Yusuf, wakil Gubernur Jawa Timur, saat menghadiri Penganugerahan Kartini Award, 16 April 2009, di Surabaya Plaza Hotel.

Suasana Press Conference Kartini Award 2009

Dokumen pribadi

Diplomasi BH sebenarnya pertama-tama diungkapkan oleh Gus Dur saat menghadiri konferensi di Timur Tengah. Saat itu, para petinggi meributkan tentang redaksional suatu kesepakatan dan tidak segera mendapat kata yang tepat untuk menyimpulkan hasil konferensi tersebut. Lantas Gus Dur mengusulkan sesuatu. Dengan bahasa Arab yang fasih, beliau menjelaskan bahwa biarkan mereka yang ahli dalam menyusun redaksional yang menyelesaikan kebingunan ini, yang penting intinya sudah dipahami. Beliau mencontohkan seperti seorang perempuan mencari BH (breast holder) yang tepat sesuai payudaranya. Biarkan yang ahli yang memilih mana yang tepat. Begitu penjelasan Gus Dur dan diakhiri dengan gelak tawa para hadirin.

Menggelitik memang cerita tentang diplomasi BH ini, tapi sarat makna. Biarkan yang ahli menentukan sikap dan langkah. Perempuan dalam hal ini, jadi pembicaraan utama yang saya bahas. Biarkan perempuan dengan segala daya dan upaya yang dimilikinya mengambil sikap dan tindakan yang terbaik untuk dirinya. Karena sejatinya, hanya diri perempuan sendiri yang memahami apa yang terbaik bagi dirinya. Jangan biarkan bias gender membatasi para perempuan untuk berkarya.

Saya memang tidak mendalami pemikiran Kartini, tetapi yang saya tahu dari beberapa pembahasan mengenai tulisan beliau, Kartini adalah sosok perempuan muda yang mendambakan kebebasan untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Bukan untuk menyaingi kaum lelaki, tetapi untuk mengusahakan adanya penghargaan terhadap kaumnya.

Semangat Kartini yang tak pernah padam untuk belajar, mengilhami banyak perempuan Indonesia untuk berkarya di bidangnya. Salah satu di antaranya Dra. MYRTATI DYAH ARTARIA, MA, Ph.D, ahli antropologi ragawi yang mampu merekonstruksi wajah dari tengkorak. Satu-satunya ahli yang dimiliki Indonesia. Layak bila beliau mendapat anugerah Kartini Award 2009. Karyanya di dunia penelitian menjadi aset tak ternilai bagi Indonesia.

Suara Surabaya.netSuara Surabaya.net

Bangga rasanya bila melihat wajah-wajah perempuan Indonesia yang berprestasi. Di sisi lain, hari saya perih melihat ada banyak perempuan Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Hari ini, salah satu harian terbesar Jatim, memuat isu human trafficking sebagai headline. Muncul banyak pertanyaan di benakku. Kenapa mereka bisa begitu saja dibohongi. Kenapa sebagian besar dari mereka adalah perempuan.

LSM dan pranata hukum sudah mengambil tindakan nyata dalam menyikapi hal itu, tapi hasilnya masih belum signifikan.  Setiap tahun, angka penjualan kaum hawa ini makin meningkat.

Isu human trafficking sebaiknya jangan dipandang sebelah mata. Seharusnya dijadikan agenda utama bagi para petinggi negri yang sedang berebut mendapat kursi empuk. Katanya mereka ingin memperjuangkan kepentingan rakyat, kepentingan yang bagaimana? Akankah mereka yang terpilih nantinya peduli pada nasib anak-anak dan perempuan yang diperdagangkan layaknya barang dagangan?

Akhirnya, Selamat Hari Kartini. Semoga semangat Kartini untuk belajar dan menjadi pintar tidak pernah sirna dari perempuan Indonesia. Sehingga mereka tidak lagi mudah dibodohi. Dengan kemampuan dan keterempilan yang mereka miliki, mereka tidak akan mau membiarkan dirinya dijadikan komoditas.





Ngawur…

21 04 2009

Ada tiga pertanyaan yang muncul di benakku pagi ini:

1. Kenapa KPU harus beli komputer seharga 30 juta per unit???? Emang yang 7 jutaan aja ga bisa ya? Scaner apa pula harganya 25 juta??? Secanggih apa sih? Apakah sudah didukung operator yang canggih juga??
2. Bagaimana mungkin siswa yang sedang sakit bisa mengerjakan UNAS dengan maksimal, lha wong yang sehat aja belum tentu bisa mengerjakan dengan baik. Aneh-aneh saja. Ada pula yang lagi sekolah di rodeo, juga ikut UNAS. Sungguh tidak masuk di akal!
3. Perempuan Indonesia, sungguh malang nasibmu. Jadi buah bibir selama dua hari sebagai cover story di sebuah Harian terbesar di Jatim. Diperjualbelukan layaknya sapi perah.

Terus terang saya marah dan kecewa. Entah apa yang terjadi di Indonesia saat ini. Bagaimana mungkin uang bermiliar-miliar itu dibelanjakan untuk computer yang katanya canggih itu hanya untuk “Pesta” demokrasi? Memang kalau disebut sebagai pesta, tidak heran kalau konsepnya adalah pesta. Lihat saja sebuah pesta pernikahan. Ada makanan enak, ada hiburan musik, alat-alat semua minta yang baru. Gengsi kalau pakai yang bekas.

Sedang banyak manula mengantri BLT. Oknum-oknum yang katanya ahli di IT itu beli komputer baru yang harganya selangit. Huh!!! Kalau memang membuat semua jadi lancar ya ga papa. Yang jadi masalah di sini, sudah didukung peralatan canggih kok ya masih ga lancar. Saya disini bukan ingin menuding. Tapi mari kita renungkan sejenak.

Sempat muncul di benakku, bagaimana kalau diadakan sayembara, siapa yang bisa mengusulkan cara PEMILU yang efektif. Dari pada kampanye susah-susah, tetap saja saat pemilih harus mencontreng mereka masih bingung harus pilih yang mana. Saking bingungnya sampai banyak yang ngawur saat nyontreng (termasuk saya :P). Jangan heran kalau ada partai yang merasa mendapat dukungan eh ternyata saat dikalkulasi hasilnya nihil.

Lanjut, tentang UNAS. Aneh. Kenapa mereka yang sakit tidak dapat dispensasi? kenapa mereka yang masih sekolah di RODEO tetap harus ikut UNAS? Apakah mungkin, materi yang diujikan di UNAS masih nyantol di benak mereka? Kenapa tidak diadakan ujian lain saja sebagai persyaratan lulus.

Saya melihat ada persamaan antara mencontreng surat suara dengan mengisi jawaban UNAS. Bagi mereka yang tidak ngeh harus milih siapa, akan nyontreng dengan seenaknya. Sama halnya dengan MA, siswa yang sekarang mendekap di rutan, saya yakin (bukan maksut meremehkan) dia tidak akan siap menghadapi UNAS, jadi mengisi jawabanan pun asal. Juga siswa yang sedang di Rumah sakit, boro-boro belajar, mikirin tangan yang masih di gips aja ga habis-habis.

Masalah terakhir adalah tentang BIBIR Manado, yang lagi jadi headline di JAWA POS. Miris saya membaca hasil investigasi itu. Kenapa perempuan bisa dan mau diperlakukan seperti itu. Ya bisa dan mau. mengapa saya bilang begitu. Karena ada yang diperalat dan ada yang dengan keinginan sendiri gara-gara silau dengan materi.

OOOOOh tidak! Dunia semakin carut marut! Sementara “peserta” Pesta Demokrasi pusing dengan Koalisi dan Kursi, rakyat pusing dengan urusan perut. Kalau sudah begini, semua jadi ngawur. Contreng ngawur, ngisi jawaban UNAS pun ngawur.





When Facility meets Quality

11 04 2009

kompetiblogbadge-neo3Belajar. Tak ada matinya! Hidup adalah suatu proses pembelajaran. Sejak kecil kita belajar merangkak, minum, makan, mengenal ayah, menulis abjad, sampai belajar untuk mencintai seseorang.

Dari proses belajar kita akan semakin bertumbuh dan menjadi ORANG yang sesungguhnya. Orang yang mengerti untuk mengambil sikap dan tindakan yang tepat di segala situasi dan kondisi.

Menjadi orang bijak bicara tentang bagaimana kelihaian seseorang menempatkan diri, baik dalam bertutur dan bertindak. Tutur bahasa menentukan ”kelas” seseorang. Bukan materi belaka yang bicara, lebih dari itu pemilihan kata dan gaya bicara yang santun melampaui segala materi yang ada.

Belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Yang penting adalah bagaimana menggunakan kesempatan yang ada untuk belajar segiat-giatnya. Belajar di Belanda, salah satu peluang emas bagi kita untuk menemukan kesempatan demi kesempatan untuk belajar.

Pengalaman itu akan terpatri jelas dalam tindak tanduk seseorang. Belanda sebuah negara modern yang sarat dengan budaya lokal tidak asing bagi orang Indonesia. Mengenal Belanda bukan hanya sebagai penjajah, tetapi pewaris ilmu yang luar biasa.

Saya ingin mengejar peluang emas itu. Meski hanya dua minggu, saya percaya berangkat dan pulang akan berbeda. Apalagi untuk memasuki era globalisasi, jangan menutup diri terhadap pergaulan internasional, jangan sampai jadi ”kuper”. Ada banyak pilihan studi yang ditawarkan di Belanda, tinggal menyesuaikan dengan minat dan bakat. Belanda menjadi tempat yang tepat bagi anda untuk belajar, dimana fasilitas dan kualitas bertemu.