Lebaran: Euphoria Pulang Kampung

21 09 2009

Indahnya Ramadhan selalu dibarengi dengan tradisi pulang kampung alias mudik. Saya salah satu dari jutaan orang yang mudik. Tahun ini saya benar-benar merasakan euphoria mudik. Naik Bus. Ga percaya? Beneran. Saya ga bohong. Butuh 32 jam untuk membawa saya ke kampung. Tapi anehnya, euphoria lebaran memberikan energi yang luar biasa! 32 jam memang waktu yang sangat panjang, tapi NIKMAT! Rasa letih dan bokong yang panas lenyap entah kemana.
Sampai di rumah, mama sudah siap dengan seember air panas, katanya khusus disiapkan untuk merendam kakiku yang bengkak. Aha, aneh tapi nyata, meski duduk selama itu, kaki saya masih normal, tidak bengkak, tidak pegal linu. Mama bingung dan takjub. “Kamu kok bisa masih seger bugar gitu, padahal wes tak bayangkan kamu bakalan lemes dan lencu (kusut-red),” kata mama. Lagi-lagi inilah euphoria pulang kampung, saking bahagianya, perjalanan jauh terasa dekat.
Hal menarik yang saya pelajari kali ini adalah tentang “perasaan antusias dan gembira”. Asalkan itu ada dalam genggaman, niscaya hidup bakal lebih enteng dan mudah untuk dijalani.
So, be happy and keep in smile 🙂
Happy Holiday everyone.

Advertisements




Berapa harga mu per jam?

26 07 2009

Jika Anda diperhadapkan dengan pertanyaan di atas, apakah Anda sudah punya jawabannya?

Mario Teguh The Golden Ways malam ini membahas tentang “berhasil semuda mungkin”. Untuk meraih sukses sejak muda, ada satu kunci yang Mario Teguh (MT) sampaikan, yaitu tentang manajemen waktu. Manajemen waktu dimulai dengan bagaimana kita menghargai waktu. Menghargai di sini tidak berkaitan dengan kata hormat, tapi bagaimana kita mematok “time value of yourself”. Atau dengan kata yang lebih sederhana, “Berapa sih harga mu per jam?”

Bagi mereka yang mematok harga sangat murah, katakanlah seribu rupiah per jam, jangan heran jika mereka membuang-buang waktu yang mereka punya. Lain halnya dengan orang yang menghargai waktu “dirinya” dengan tinggi, maka dia tahu dan sadar tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada karena dia dibayar mahal untuk setiap jamnya. Semoga Anda pahamsampai di sini.

Memang untuk dapat mematok harga yang tinggi dibutuhkan proses, tapi panjang pendeknya proses itu lagi-lagi tergantung diri kita. Yang jelas, penilaian orang lain itu sebenarnya muncul karena tindak tanduk kita. Jika Anda ingin berhasil maka bersungguh-sungguhlah menjadi bagian seutuhnya dari keuntungan dalam berbagai kondisi. MT mencontohkan jika ruangan kantor kotor, jadilah orang yang peduli untuk menjaga kebersihan kantor tersebut, jika suasana kantor memanas, jadilah orang yang meredam amarah. Alhasil, Anda akan menjadi orang-orang yang handal dan patut untuk dipercaya.

Langkah berikutnya adalah tidak hanya berhenti dengan memiliki cita-cita besar. Orang dengan segudang cita-cita besarnya hanya akan berhasil jika dia menemukan komunitas yang benar. Intinya adalah, seseorang tidak akan menjadi besar jika menghindar untuk bergaul dengan orang-orang besar. Jangan menghindar untuk bertemu dengan boss atau atasan Anda. Semakin Anda “kelihatan”, semakin besar kemungkinan bagi Anda untuk diangkat ke jenjang yang lebih tinggi.





Titik Terang

10 03 2009

dapat dari temanSelamat pagi dunia, akhirnya saya kembali ke jalan yang benar, kembali menulis dan menulis. Setiap orang mendambakan kepastian dan sebuah TITIK TERANG saat diperhadapkan pada banyak pilihan atau bahkan jalan buntu. Ada yang bingung tanya kanan kiri, ada yang pasrah saja diam tak berkutik, ada yang bergerilya mencari jawaban, dan lain sebagainya. Manusia memang unik. Diciptakan sebagai makhluk yang indah dan berakal pikiran membuatnya memiliki kehendak bebas (free will). Kehendak bebas inilah yang memungkinkan seseorang untuk memilih. baik memilih untuk menjadi seorang pemenang atau sebaliknya menjadi seorang pecundang.
Untuk menemukan sebuah titik terang, seseorang diharuskan untuk berhadapan dengan banyak pilihan. Bayangkan saja seperti orang yang sedang tersesat di tengah hutan, tidak membawa kompas dan hanya berbekal intuisi semata. Dia harus menentukan pilihan dengan benar, mau belok kanan kah, atau belok kiri kah, atau bagaimana. Yang pasti, pintu keluar dari hutan itu tetap pada tempatnya. Tinggal bagaimana cara untuk menemukannya.
Saya sedang berjalan menyusur jalan, setapak demi setapak, berbekal tekad dan intuisi dari-Nya, saya melangkah dan terus melangkah demi sebuah titik terang.