When Facility meets Quality

kompetiblogbadge-neo3Belajar. Tak ada matinya! Hidup adalah suatu proses pembelajaran. Sejak kecil kita belajar merangkak, minum, makan, mengenal ayah, menulis abjad, sampai belajar untuk mencintai seseorang.

Dari proses belajar kita akan semakin bertumbuh dan menjadi ORANG yang sesungguhnya. Orang yang mengerti untuk mengambil sikap dan tindakan yang tepat di segala situasi dan kondisi.

Menjadi orang bijak bicara tentang bagaimana kelihaian seseorang menempatkan diri, baik dalam bertutur dan bertindak. Tutur bahasa menentukan ”kelas” seseorang. Bukan materi belaka yang bicara, lebih dari itu pemilihan kata dan gaya bicara yang santun melampaui segala materi yang ada.

Belajar bisa dimana saja dan kapan saja. Yang penting adalah bagaimana menggunakan kesempatan yang ada untuk belajar segiat-giatnya. Belajar di Belanda, salah satu peluang emas bagi kita untuk menemukan kesempatan demi kesempatan untuk belajar.

Pengalaman itu akan terpatri jelas dalam tindak tanduk seseorang. Belanda sebuah negara modern yang sarat dengan budaya lokal tidak asing bagi orang Indonesia. Mengenal Belanda bukan hanya sebagai penjajah, tetapi pewaris ilmu yang luar biasa.

Saya ingin mengejar peluang emas itu. Meski hanya dua minggu, saya percaya berangkat dan pulang akan berbeda. Apalagi untuk memasuki era globalisasi, jangan menutup diri terhadap pergaulan internasional, jangan sampai jadi ”kuper”. Ada banyak pilihan studi yang ditawarkan di Belanda, tinggal menyesuaikan dengan minat dan bakat. Belanda menjadi tempat yang tepat bagi anda untuk belajar, dimana fasilitas dan kualitas bertemu.

Advertisements

Be Ready and Welcome to a Global Community!

kompetiblogbadge-neo3

Saya mau kembali ke habitat saya sejenak… sudah sekian lama saya mendiamkan blog ini, huhuhuhu,,, gara-gara keranjingan update Facebook 😀 akhirnya jadi males untuk menulis. Jia you! Semangat!

Pagi ini akhirnya saya menemukan sebuah titik terang (ide tulisan tentang studi di Belanda). Jawa Pos hari ini memuat cerita tentang kawan kita, Nila Tanzil yang sukses menjadi “the only Indonesian who’s on the list of the top 50 applicants for The Best Job in The World contest. ” Hebat bukan!!!

Lebih menariknya lagi, saya baru tahu kalau Nila mulai blogging saat dia belajar di Belanda. Dari hobby blogging ini Nila mendapat personal branding yang luar biasa. Keberhasilannya mengikuti kontes bergengsi tersebut juga tidak lepas dari blogging. Lagi-lagi cikal bakalnya adalah BELANDA. Belajar di Belanda menginspirasinya untuk menuliskan berbagai pengalaman yang dia peroleh di sana.

Menarik bukan?

Bicara tentang studi di Belanda tidak akan ada habisnya. Banyak orang bermimpi dan berandai-andai ingin belajar di sana, sembari berfoto di ladang Tulip, di bawah Kincir Angin, dan melihat keindahan alam lainnya. Namun, acapkali mimpi itu terhalang oleh sebuah tembok, yaitu bahasa Belanda.

“Aduuh, gimana nih, aku ga bisa Belanda sama sekali!”

Tenang… tenang… jika Anda orangnya, tidak perlu takut dengan kendala bahasa. Saat ini ada banyak program internasional yang ditawarkan dengan panduan Bahasa Inggris. Jadi Anda tidak perlu risau tentang Bahasa Belanda.  Kemudahan ini semakin membuka peluang bagi kita yang mau belajar di  Belanda tanpa batas budaya maupun bahasa.

Be Ready and Welcome to a Global Community!

Titik Terang

dapat dari temanSelamat pagi dunia, akhirnya saya kembali ke jalan yang benar, kembali menulis dan menulis. Setiap orang mendambakan kepastian dan sebuah TITIK TERANG saat diperhadapkan pada banyak pilihan atau bahkan jalan buntu. Ada yang bingung tanya kanan kiri, ada yang pasrah saja diam tak berkutik, ada yang bergerilya mencari jawaban, dan lain sebagainya. Manusia memang unik. Diciptakan sebagai makhluk yang indah dan berakal pikiran membuatnya memiliki kehendak bebas (free will). Kehendak bebas inilah yang memungkinkan seseorang untuk memilih. baik memilih untuk menjadi seorang pemenang atau sebaliknya menjadi seorang pecundang.
Untuk menemukan sebuah titik terang, seseorang diharuskan untuk berhadapan dengan banyak pilihan. Bayangkan saja seperti orang yang sedang tersesat di tengah hutan, tidak membawa kompas dan hanya berbekal intuisi semata. Dia harus menentukan pilihan dengan benar, mau belok kanan kah, atau belok kiri kah, atau bagaimana. Yang pasti, pintu keluar dari hutan itu tetap pada tempatnya. Tinggal bagaimana cara untuk menemukannya.
Saya sedang berjalan menyusur jalan, setapak demi setapak, berbekal tekad dan intuisi dari-Nya, saya melangkah dan terus melangkah demi sebuah titik terang.

Selalu Ada yang Baru di Tahun Baru

Pasti ada yang baru dan selalu ada yang baru di tahun yang baru. (maap kalau kebanyakan kata “baru”-nya :P).

Kalau boleh saya bikin list, apa-apa saja yang baru menjelang tahun 2009. Ini dia daftarnya:

  1. rambut baru,
  2. mama ga mau lagi pakai pembantu di rumah,
  3. nama ku berubah, sekarang ada gelarnya, hehehe, LIDYA WANGSA, S.SOS (cieeee LOL),
  4. pasang indovision, gara-gara astro distop,
  5. les mandarin, mulai 5 january 09,
  6. dst….

Daftar di atas hanya sekadar intermezzo, teman boleh membuat daftar sendiri.

Akhirnya, Selamat menempuh tahun yang baru, tetap berusaha dan beriman kepada Tuhan. Tanpa iman, usaha yang dilakukan manusia adalah usaha mengumpulkan keringat belaka tanpa hasil yang jelas.

Terima kasih teman, untuk doa dan dukungannya selama tahun 2008 kemarin. Maafkan segala kealpaan yang pernah saya perbuat. Semoga, tahun 2009 menjadi tahun penuh berkat dan kelimpahan. Amin.

I Love u Jesus!!!

Bekerja sama dengan Waktu

Jika Anda ditanya, pekerjaan apa yang paling menjemukan di dunia? Sebagian besar orang pasti akan menjawab dengan hal yang sama. Apa itu? Saya yakin, anda pun akan setuju dengan saya, ya, yang paling menjemukan adalah MENUNGGU.

Menunggu air mendidih, menunggu antrean laundry, menunggu koneksi internet yang lamban, menunggu panggilan pekerjaan, menunggu kedatangan tamu, sampai menunggu seseorang memberikan titik dalam kalimat super panjang yang diucapkannya, dan selanjutnya, silakan ditambahkan sendiri menurut versi Anda.

Bagi saya yang seorang “pengangguran” ini, menunggu kejelasan kapan Bank ‘itu’ memanggil saya untuk mulai training adalah hal yang membawa saya kepada tingkat kejemuan, yang kian hari kian menggila.

Memang sudah nature manusia, ingin segala sesuatu menjadi pasti dan jelas. Bahkan, kalau bisa kita tahu kapan itu terjadi. Semisal seperti kejelasan tentang, kapan jodoh datang, siapa orangnya, kapan menikah, kapan punya anak, kapan naik pangkat, kapan gaji naik, kapan mulai kerja.

Tapi, siang ini saya mulai merenungkan, dan mulai berpikir, apa jadinya jika saya tahu kapan semua yang saya sebut di atas terjadi. Pastinya orang akan menganugerahi saya gelar terhormat, yaitu peramal kondang. Beruntung saya bukan peramal, saya cuma orang biasa yang punya iman, niat serta kerja keras. Tentang kejelasan dan kepastian tentang segala sesuatu, kita serahkan kepada Tuhan saja, yang penting kita sudah berusaha sekuat tenaga.

Saya mulai berpikir keras, apa yang harus dilakukan supaya saya tidak terlena membuang waktu berharga ini, sebelum saya benar-benar terjun ke dunia kerja. Beberapa kegiatan sudah saya lakukan. Saya mulai belajar menyetir roda empat, kemarin manual dan hari ini automatic car. Dua minggu yang akan datang saya mulai memberikan kursus blogging ke adik kelas. Dan yang paling gress, besok saya akan main ke Jakarta selama seminggu.

Senang akhirnya, saya mulai bisa bekerja sama dengan waktu. Mempunyai lebih banyak waktu dengan keluarga di rumah, sebelum saya mulai terjebak dalam kesibukan dan rutinitas kerja yang pasti akan saya hadapi.

Laskar Pelangi

Niatnya nonton premier Laskar Pelangi (LP), 25 Sept di Surabaya Plaza, tapi apa daya, ga kebagian tiket. Terpaksa nonton keesokan harinya. Saya sudah cek bagian informasi penjualan tiket, katanya ticket box baru akan dibuka jam 11. Rencana mau nonton di Surabaya Plaza. Habisnya murah sih, cuma 10 rb!Buru-buru saya naik angkot bersama adik tercinta untuk menyaksikan LP. “ayo Ita, cepetan donk, tar telat!” omelku memburu waktu. Sampai di depan ticket box, ternyata tiket untuk hari itu sudah ludes. Fiuh, padahal nanti malam saya sudah harus mudik ke kampung halaman, Jember, dan  yang saya tahu, LP ga bakalan diputar di bioskop Jember. (sedihnya)

Apa pun yang terjadi saya harus nonton film LP! Langsung saya menelpon ke XXI Tunjungan Plaza, menanyakan apakah masih ada tiket yang tersisa. Syukur, masih ada yang tersisa. Sampai di Tunjungan, saya agak terkejut, saya lupa kalo ini hari Jumat! XXI 30rb, bukan 15rb. Ups, untung bawa uang lebih. Gpp, demi LP!

Sebelumnya, kira-kira 4-5 bulan yang lalu, saya sudah melahap habis Trilogi LP, dan sudah lama menantikan film ini. Entah ada kimia apa antara saya dan LP! Sampai-sampai setelah saya membaca LP saya langsung bercita-cita, suatu hari ingin mendirikan sekolah gratis bagi warga Jember yang kurang mampu. Semoga mimpi jadi kenyataan..

Di tengah perjalanan ke Tunjungan Ita bertanya, “Sebenernya film apaan sih ini Cie? film Hollywood aja ga dikejer kaya gini!” Pertanyan sederhana ini menggelitik saya. Apa sih istimewanya LP ketimbang film lain? Jujur saya memang bukan tipe orang yang rajin ke bioskop. Selama setahun mungkin bisa dihitung dengan jari, saya pernah nonton berapa kali.

Dengan tegas dan PD, padahal belum masuk ke bioskop saya menjawab pertanyaan Ita. Ita memang belum sempat membaca LP, tapi dua hari sebelumnya dia sudah membaca Edensor. Jadi saya sedikit menjelaskan isi cerita LP. LP menarik dan istimewa bagi saya karena:

1. LP punya “cerita” yang hidup,

2. Bercerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan persaudaraan,

3. Menguak fakta tentang pendidikan Indonesia,

4. … (bisa diiisi dengan versi anda)

Study Hard, Play Hard!

Minggu ketiga di Auckland…

Tak terasa sudah 16 hari Lidya meninggalkan tanah air. Ya, demi menunaikan tugas negara, saya harus terbang ke negeri seberang, habitat asli Kiwi, sejenis unggas dan buah berwarna hijau. Kok tugas negara? Ya, begitulah pesan terakhir dari pak rektor saat melepas keberangkatan kami ke New Zealand. Pada dasarnya belajar itu tugas pribadi, tapi masalahnya ini menyangkut nama baik universitas, yang juga berarti menyangkut nama baik Indonesia, apalagi keberangkatan kami sepenuhnya dibiayai kampus. Jadi lagi-lagi perjalanan sebulan ini adalah “menunaikan tugas negara”.

Untungnya perjalanan dinas ini sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, Auckland University of Technology (AUT), tempat saya belajar memiliki segala hal yang diimpikan oleh para mahasiswa di Indonesia. Fasilitas lengkap, staf pengajar yang mumpuni, akses informasi yang sangat cepat, dan yang terpenting semuanya bekerja berdasarkan sistem yang terkoordinasi dengan baik.

Di depan Gedung WT-AUT
Di depan Gedung WT-AUT

Selama 15 hari kemarin, saya terlibat penuh dalam beberapa kelas, yaitu Advanced TV Production, Principles of Writing, Digital Media Project, dan New Media Journalism. Keempat paper ini (begitu kami menyebut mata kuliah di AUT) sangat-sangat-sangat menyenangkan.

Awalnya, saya sempat heran dan tak mengerti, mengapa Rosemary Brewer, programme leader of Communication Studies, memasukkan Principles of Writing dalam jadwal perkuliahan yang harus saya tempuh selama sebulan ini. Untuk diketahui, paper ini diambil oleh mahasiswa tahun pertama atau semester 2. Sesuai dengan namanya, mudah sekali ditebak, yaitu mengenai prinsip dasar menulis. Kuliah ini dibagi menjadi dua kelas, lecture dan tutorial class. Lecture class semacam kuliah umum, dimana dosen akan menyampaikan materi selama satu jam penuh dan sifatnya satu arah.

Lecturer Class-Principles of Writing
Lecture Class-Principles of Writing

Di sini mahasiswa hanya perlu mendengarkan baik-baik apa yang disampaikan oleh dosen. Lantas pada hari berikutnya diadakan kelas tutorial. Di kelas tutorial ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan materi yang telah disampaikan pada lecture class. Setiap orang bekerja langsung di hadapan komputer (APPLE!!) dan mengingat jumlah mahasiswa tidak sebanyak saat lecture class, sehingga mereka dapat berinteraksi langsung dengan dosen jika menemui kesulitan.

Tutorial class
Tutorial class

Lalu apa yang membuat saya heran? Saya heran dan agak terkejut kenapa harus mengikuti kuliah yang “remeh temeh” seperti ini. Prinsip dasar menulis?!! Yang ada di benak saya saat masih di Indonesia, saya hanya akan terlibat dalam kelas-kelas praktik, bukan kelas teori seperti prinsip dasar menulis. Syukur, setelah pertemuan kedua dan ketiga (hari ini) saya menyadari bahwa saya adalah orang yang beruntung bisa mengikuti kelas prinsip dasar menulis. Melalui kuliah ini, para mahasiswa AUT benar-benar dipersiapkan sejak awal untuk berpikir logis, khususnya dalam menulis.

Selain Principles of Writing, hari ini saya juga mengikuti paper Advanced TV Production. Lagi-lagi pengalaman baru. Kalau di UNAIR, kuliah ini hampir mirip dengan kuliah Teknik Mencari dan Menulis Berita (TMMB). Saya ingat, dulu pernah ada tugas membuat tayangan berita, dimana yang lebih ditekankan adalah bagaimana memproduksi beritanya bukan siarannya. Sayang sekali. Sehingga saat itu, hasil kerja kami kurang maksimal. Di AUT, saya belajar bagaimana memproduksi siaran TV. Pada pertemuan yang lalu, kami memproduksi siaran dengan format Talk Show, dan hari ini format News. Di setiap pertemuan, kami diberikan briefing singkat tentang apa yang harus dilakukan. Dosen siap dengan modul yang akan dipraktikkan dan memberikan penjelasan singkat sekitar 15 menit, kemudian kelas dibagi menjadi dua bagian, bagian control room dan studio. Hari ini saya berperan di control room, mengatur tapping gambar.

Talk Show Format
Talk Show Format

Control Room
Control Room

Sangat menyenangkan. Dan beruntung semuanya berjalan lancar. Pada giliran berikutnya, saya menawarkan diri untuk mencoba mengoperasikan kamera. Senang sekali! Awalnya, saya sempat tak percaya diri, tapi saya buang semua itu dan mulai memberanikan diri untuk mencoba. Kehadiran Gilly Tyller selaku dosen pengajar sangat membantu. Gilly menaruh perhatian penuh kepada mahasiswanya dan dengan senang hati memberikan contoh bagi mereka yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam kelas ini.

Gilly Tyller
Gilly Tyller

Tiga jam kuliah berlangsung begitu cepat karena kuliah begitu menyenangkan. Tak sabar menunggu minggu depan. Minggu depan kami akan belajar tentang camera angle untuk siaran musik. Jadi minggu depan akan ada bintang tamu, penyanyi, dan kami akan buat siaran live music.(LW)

Welcome to Auckland

Auckland, 20th July 2008,

Today I arrive in Auckland, I guess it is the biggest city in New Zealand. First time when I step out from the plane, I have not surprised yet with the Airport, until I past in front of a board telling the prohibit things to be brought in to New Zealand. It said “You just choose, whether you want to dispose or declare that stuff.” I see that board and stuck to my self, for the photo on that board capture about chicken, fish and…. Wooden drum! What a surprising matter. I think is it okay bringing that stuff because that is an artificial product, not the real leather. But the photo on that board does’t say so. Fortunately, I only need to declare it and the officer permit me to bring that drum. Fiuhh… Thanks God it’s over.

Then, I and my partner Tiara exit the airport. Beside the gate, Rosemary Brewer, the programme leader of Communications Department, has been waiting for picking up me and Tiara to the City. Thank you so much Mam ;). It takes almost 40 minutes from the airport to the hotel.

Welcome to The Island of White Clouds
Welcome to The Island of White Clouds

Mrs. Rosemary giving us some directions, if we want to go around the city. Arriving to the Quest Hotel in Queen Street, we take a rest for a while. Then at 3 pm we go out looking for a money changer place for we don’t have any NZD. Luckily we get a good conversion for our US$. We start to find the place of AUT and China grocery.

Sky Tower
Sky Tower

A long the way, I see many people in variety of races. In my opinion, this fact of diversity will make NZ as one of the beautiful and peaceful city in the world. Since NZ has multicultural life, there is no doubt for everyone from any races to stay here. All people have the same right to maintain their life well and stay in harmony. (LW)

Brunei Air asyikk, tapi pramugarinya…

Yes, aku berangkat ke New Zealand!! Hehe… jam 20.30 waktu Surabaya (kemaren, 18 Juli), Lidya dan Tiara meluncur ke New Zealand, tapi ga langsung ke NZ, transit dulu ke Brunei, sebabnya kita terbang bersama Royal Brunei.

Terbang bersama Brunei menyenangkan sih… tapi ada satu yang bikin agak sebel. Pramugarinya jutek… Cantik sih, tapi jutek bangeeeetttt… Including petugas bandara yang cewek.. Hmmm, untungnya pramugara dan petugas bandara yang cowok ramah 🙂

Anyway, ini adalah kali kedua aku naik pesawat. Dulu pertama kali naik pesawat waktu zaman TK. Hehe… Jadi bisa dibayangin gimana excited-nya aku naik pesawat… Ndeso emang 😥  Tapi yang penting gak malu-maluin dong, tetep stay cool. Hohoho…

Yang bikin deg deg an adalah waktu cuaca buruk, tiba-tiba…….. gruduk gruduk gruduk Oh My God…. Oh My God!! Pake sabuk pengaman… cepat.. cepat.. bahkan bule di depanku jadi panik juga… Beruntung cuma 5 menit… Fiuhh… Thanks God, It’s over.

Tepat pukul 23.00 WIB, atau sekitar jam 24.00 waktu Brunei (18 Juli) kami sampai di Bandar Seri Begawan Airport. Trus dijemput travel, jadi critanya kami dapat hotel dari Royal Brunei soalnya mesti transit sekitar 18 jam gitu.

Hari ini rencana kami mau jalan-jalan keliling city, naik shuttle hotel. Inginnya sih mampir ke palace dan kampung air, kayaknya asyik. semoga masih keburu.

to be continued…

Becoming “Sexy”

Nowadays, many of young people are not satisfied with their physical appearance. Cruel hair is straightened; dark skin is whitened and so on. Yes, getting a feel that she or he is imperfect, they try to change it to be ‘the perfect one’, though ‘the perfect one’ sometimes is not the best one.

          Then, what is the best one? How to manage our appearance in to an appropriate way?

          It’s easy! Just be your self. Do not ever treat yourself with others standard, such as beauty is pain, beauty is white, or beauty is slim, etc. Try to make a standard which is comfortable for you, and of course still follow the basic rules (e.g.: cleanness, smell good). It doesn’t matter if you can not go along with the latest trend of fashion. Though, if you want to follow the trend is not a crime. But, be clean and aromatic it a must.

          I, my self, am a kind of person that still believes on the power of inner beauty. In my opinion, building and maintaining our inner beauty are as important as taking care of our body. Think positively and attempt to behave mannerly will boast your inner beauty. More over, try to smile everyday for it makes you in good health and trust me you will feel younger.

          Joining a club of hobby or an organization will enhance your confidence too. By trusting your self you will no doubt about your appearance. From those activities, joining club and organization, you can enlarge your network that means you will have more new friends. Just remember, true friends don’t expect you to be fashionable. On the other hand, they will encourage you to be your self.

          Back to the inner beauty topic. Inner beauty is linked very closely with individual character. A good character, according to some expertise, is more precious than a good looking. Therefore it is essential for everyone who wants to be a charming people.

          However, having a good character is not instantaneousness; need a long process to achieve it. Considering this complicated conditions, everyone should makes an attempt to train itself in to a good manner since a good manner reflecting a good character.

          Last but not least, life is a choice and to choose. You may have a choice to follow the trend, or do not care about it. It is up to you for every human being has a free will. But then please keep in your mind that we are living in a society and we can not live alone. Consequently, we should make sure that our appearances have been appropriate or not, so it may not disturb others. Appropriate look does not mean just good look or good body but more importantly good character and good manner. Through this effort you can enjoy your life and find out how beautiful you are for you are a special creation, God has made and He loves you. So do not shame and take a pity of yourself, just be confidence and be your self. Let’s looked towards your mirror and say: “I am beautiful, no matter what they said!”