Study Hard, Play Hard!

4 08 2008

Minggu ketiga di Auckland…

Tak terasa sudah 16 hari Lidya meninggalkan tanah air. Ya, demi menunaikan tugas negara, saya harus terbang ke negeri seberang, habitat asli Kiwi, sejenis unggas dan buah berwarna hijau. Kok tugas negara? Ya, begitulah pesan terakhir dari pak rektor saat melepas keberangkatan kami ke New Zealand. Pada dasarnya belajar itu tugas pribadi, tapi masalahnya ini menyangkut nama baik universitas, yang juga berarti menyangkut nama baik Indonesia, apalagi keberangkatan kami sepenuhnya dibiayai kampus. Jadi lagi-lagi perjalanan sebulan ini adalah “menunaikan tugas negara”.

Untungnya perjalanan dinas ini sangat menyenangkan. Bagaimana tidak, Auckland University of Technology (AUT), tempat saya belajar memiliki segala hal yang diimpikan oleh para mahasiswa di Indonesia. Fasilitas lengkap, staf pengajar yang mumpuni, akses informasi yang sangat cepat, dan yang terpenting semuanya bekerja berdasarkan sistem yang terkoordinasi dengan baik.

Di depan Gedung WT-AUT

Di depan Gedung WT-AUT

Selama 15 hari kemarin, saya terlibat penuh dalam beberapa kelas, yaitu Advanced TV Production, Principles of Writing, Digital Media Project, dan New Media Journalism. Keempat paper ini (begitu kami menyebut mata kuliah di AUT) sangat-sangat-sangat menyenangkan.

Awalnya, saya sempat heran dan tak mengerti, mengapa Rosemary Brewer, programme leader of Communication Studies, memasukkan Principles of Writing dalam jadwal perkuliahan yang harus saya tempuh selama sebulan ini. Untuk diketahui, paper ini diambil oleh mahasiswa tahun pertama atau semester 2. Sesuai dengan namanya, mudah sekali ditebak, yaitu mengenai prinsip dasar menulis. Kuliah ini dibagi menjadi dua kelas, lecture dan tutorial class. Lecture class semacam kuliah umum, dimana dosen akan menyampaikan materi selama satu jam penuh dan sifatnya satu arah.

Lecturer Class-Principles of Writing

Lecture Class-Principles of Writing

Di sini mahasiswa hanya perlu mendengarkan baik-baik apa yang disampaikan oleh dosen. Lantas pada hari berikutnya diadakan kelas tutorial. Di kelas tutorial ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk mempraktikkan materi yang telah disampaikan pada lecture class. Setiap orang bekerja langsung di hadapan komputer (APPLE!!) dan mengingat jumlah mahasiswa tidak sebanyak saat lecture class, sehingga mereka dapat berinteraksi langsung dengan dosen jika menemui kesulitan.

Tutorial class

Tutorial class

Lalu apa yang membuat saya heran? Saya heran dan agak terkejut kenapa harus mengikuti kuliah yang “remeh temeh” seperti ini. Prinsip dasar menulis?!! Yang ada di benak saya saat masih di Indonesia, saya hanya akan terlibat dalam kelas-kelas praktik, bukan kelas teori seperti prinsip dasar menulis. Syukur, setelah pertemuan kedua dan ketiga (hari ini) saya menyadari bahwa saya adalah orang yang beruntung bisa mengikuti kelas prinsip dasar menulis. Melalui kuliah ini, para mahasiswa AUT benar-benar dipersiapkan sejak awal untuk berpikir logis, khususnya dalam menulis.

Selain Principles of Writing, hari ini saya juga mengikuti paper Advanced TV Production. Lagi-lagi pengalaman baru. Kalau di UNAIR, kuliah ini hampir mirip dengan kuliah Teknik Mencari dan Menulis Berita (TMMB). Saya ingat, dulu pernah ada tugas membuat tayangan berita, dimana yang lebih ditekankan adalah bagaimana memproduksi beritanya bukan siarannya. Sayang sekali. Sehingga saat itu, hasil kerja kami kurang maksimal. Di AUT, saya belajar bagaimana memproduksi siaran TV. Pada pertemuan yang lalu, kami memproduksi siaran dengan format Talk Show, dan hari ini format News. Di setiap pertemuan, kami diberikan briefing singkat tentang apa yang harus dilakukan. Dosen siap dengan modul yang akan dipraktikkan dan memberikan penjelasan singkat sekitar 15 menit, kemudian kelas dibagi menjadi dua bagian, bagian control room dan studio. Hari ini saya berperan di control room, mengatur tapping gambar.

Talk Show Format

Talk Show Format

Control Room

Control Room

Sangat menyenangkan. Dan beruntung semuanya berjalan lancar. Pada giliran berikutnya, saya menawarkan diri untuk mencoba mengoperasikan kamera. Senang sekali! Awalnya, saya sempat tak percaya diri, tapi saya buang semua itu dan mulai memberanikan diri untuk mencoba. Kehadiran Gilly Tyller selaku dosen pengajar sangat membantu. Gilly menaruh perhatian penuh kepada mahasiswanya dan dengan senang hati memberikan contoh bagi mereka yang sama sekali tidak pernah terlibat dalam kelas ini.

Gilly Tyller

Gilly Tyller

Tiga jam kuliah berlangsung begitu cepat karena kuliah begitu menyenangkan. Tak sabar menunggu minggu depan. Minggu depan kami akan belajar tentang camera angle untuk siaran musik. Jadi minggu depan akan ada bintang tamu, penyanyi, dan kami akan buat siaran live music.(LW)





Welcome to Auckland

26 07 2008

Auckland, 20th July 2008,

Today I arrive in Auckland, I guess it is the biggest city in New Zealand. First time when I step out from the plane, I have not surprised yet with the Airport, until I past in front of a board telling the prohibit things to be brought in to New Zealand. It said “You just choose, whether you want to dispose or declare that stuff.” I see that board and stuck to my self, for the photo on that board capture about chicken, fish and…. Wooden drum! What a surprising matter. I think is it okay bringing that stuff because that is an artificial product, not the real leather. But the photo on that board does’t say so. Fortunately, I only need to declare it and the officer permit me to bring that drum. Fiuhh… Thanks God it’s over.

Then, I and my partner Tiara exit the airport. Beside the gate, Rosemary Brewer, the programme leader of Communications Department, has been waiting for picking up me and Tiara to the City. Thank you so much Mam ;). It takes almost 40 minutes from the airport to the hotel.

Welcome to The Island of White Clouds

Welcome to The Island of White Clouds

Mrs. Rosemary giving us some directions, if we want to go around the city. Arriving to the Quest Hotel in Queen Street, we take a rest for a while. Then at 3 pm we go out looking for a money changer place for we don’t have any NZD. Luckily we get a good conversion for our US$. We start to find the place of AUT and China grocery.

Sky Tower

Sky Tower

A long the way, I see many people in variety of races. In my opinion, this fact of diversity will make NZ as one of the beautiful and peaceful city in the world. Since NZ has multicultural life, there is no doubt for everyone from any races to stay here. All people have the same right to maintain their life well and stay in harmony. (LW)